Jumat, 07 April 2017

BERBAHASA SANTUN KEPADA ORANG TUA CERMINAN AKHLAK MULIA

BERBAHASA SANTUN KEPADA ORANG TUA
CERMINAN AKHLAK MULIA

A.     LATAR BELAKANG MASALAH
Agama islam adalah agama pembawa keselamatan. Semua yang diajarkan didalamnya mengandung nilai positif dan mengajak kepada kebaikan. Agama islam tidak menganjurkan perbutan buruk maupun keji, namun sebaliknya membentuk manusia yang berakhlak mulia, sesuai ajaran Rasulullah saw.
Dalam kehidupan modern ini perilaku anak tampaknya sekarang cenderung kehilangan etika dan sopan santun kepada orang tua. Berbagai faktor dapat mempengaruhi hal ini. Paparan negatif di media televisi, internet, dan media elektronika lainnya ternyata dapat meningkatkan kekerasan dan agresifitas anak. Sikap orang tua sendiri yang mengabaikan edukasi dan sering mencontohkan kebohongan dan kekerasan baik verbal maupun non verbal berrpengaruh pada perilaku anak. Sehingga berbagai kejadian buruk sering kita dengar ataupun kita jumpai bahwa anak membentak orang tua atau anak kandung menyumpahi orang tuanya. Bahkan kejadian tragis sering terjadi anak memukul orang tuanya bahkan yang lebih miris anak membunuh orang tuanya.
Dalam budaya leluhur kita dahulu bahkan berjalan melewati orang tua saja harus membungkuk, membantah atau berkata keras saja sudah merupakan tindakan buruk. Memang, untuk hormat kepada orang tua perlu adanya kebiasaan. Dan tidak ada rugi jika kita ta’dim kepada orang tua melainkan memperoleh keuntungan.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian akhlak mulia?
2.      Bagaimana cara berbahasa santun kepada orang tua?
3.      Apa saja hikmah berbahasa santun kepada orang tua?


C.     PEMBAHASAN
1.      Pengertian Akhlak Mulia
Dalam pengertian sehari-hari akhlak pada umumnya disamakan artinya dengan budi pekerti, kesusilaan, sopan santun dalam bahasa indonesia, dan tidak berbeda pula dengan arti kata moral, ethic dalam bahasa inggris. Menurut Ibnu Miskawaih akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran terlebih dahulu.[1] Jadi akhlak adalah eksistensi dari adanya jiwa dan hati manusia yang tercurah keluar menjadi sebuah perbuatan atau pun kebiasaan.
Menurut Abdullah Dirroj, akhlak adalah suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan dan kehendak berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar (dalam hal akhlak baik) atau pihak jahat (akhlak jahat).[2] Menurutnya pebuatan-perbuatan manusia dapat dianggap sebagai manifestasi dari akhlaknya apabila dipenuhi dua syarat. Pertama, perbuatan itu dilakukan berulang-ulang kali dalam bentuk yang sama, sehingg menjadi kebiasaan. Jadi apabila terdapat perbuatan namun hanya dilakukan sekali dan setelah itu tidak pernah dilakukan kembali, perbuatan tersebut tidak dinamakan akhlak. Kedua, perbuatan itu dilakukan karena dorongan emosi jiwanya, bukan karena adanya tekanan yang datang dari luar seperti paksaan dari orang lain, sehingga menimbulkan ketakutan atau bujukan dengan harapan yang indah-indah dan sebagainya. Dapat dikatakan, apabila perbuatan itu dilakukan karena adanya paksaan yang dipengaruhi oleh unsur dari luar dirinya, maka perbuatan itu tidak dapat dikategorikan akhlak.
Manusia itu tidak dilihat dari harta, ilmu atau kekuasaannya, tetapi ditentukan sepenuhnya oleh akhlak yakni perbuatan yang baik atau takwanya dan seberapa jauh nilai-nilai etika menjiwai dan mewarnai segala tindakannya. Agama adalah sumber akhlak yang tidak pernah kering, karena agama memperhatikan dan mengatur setiap perbuatan manusia. Jadi akhlak menjadi salah satu ajaran yang amat penting dalam agama apa pun, rasanya semua agama sepekat dan mempunyai pandangan yang sama, yakni semua agam memerintahkan pemeluknya berbuat baik dan melarang berbuat jahat.
Akhlak sebagai efek dari adanya aqidah dalam diri manusia. Ketika seseorang memiliki aqidah yang baik maka akhlak baik lah yang muncul sebagai perbuatan. Akhlak baik ditandai dengan perbuatan-perbuatan atau kebiasaan yang baik, diantaranya bersikap santun kepada orang tua. Sikap dan perilaku baik ini lah yang disebut dengan akhlak mulia. Akhlak yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh rasulullah saw, yang diutus di bumi sebagai penyempurna akhlak.
2.      Berbahasa Santun Kepada Orang Tua
Bericara tentang bahasa identik dengan ucapan lisan. Karena bahasa sebagai sarana dalam berkomunikasi antar makhluk dan bahasa tidak sebatas verbal saja namun juga bahasa tubuh. Oleh sebab itu tingkah laku seseorang teradap seseorang pun bahasa, yakni bahasa tubuh. Maka perlu diperhatikan dengan baik bagaimana kita berbahasa kepada orang tua, baik orang tua kandung maupun orang yang usianya lebih tua dari pada kita. Karena ini dapat menyumbang atas persepsi seseorang terhadap orang lain tentang akhlak seseorang, yakni dengan  bagaimana orang tersebut berbicara maupun berinteraksi.
Menurut al-Ghazali adab seorang anak di hadapan ayah dan ibu (orang tua) setidaknya ada sebelas.[3]
a.       Mendengar dan memperhatikan ucapan orang tua.
Ketika orang tua berbicara, menuturi, mengajarkan, memberi nasehat kepada anak maka anak harus mendengarkan dan memperhatikan apa yang dikatakan oleh orang tua. Maka tidak dibenarkan dalam kehidupan ini seorang anak menghiraukan atau bahkan membantah apa yang diucapkan orang tua kepada anak.
b.      Berdiri menyambut orang tua yang hendak berdiri
Sebagai bentuk penghormatan dan bentuk takdzim seorang anak kepada .orang tua.
c.       Patuh kepada orang tua.
Mematuhi segala apa yang diperintahkan orang tua kepada kita. Karena orang tua akan senang dalam hatinya melihat anaknya yang patuh terhadap orang tua. Namun perlu diperhatikan bahwa perintah akan hal-hal baik lah yang harus kita patuhi, bukan sebaliknya.
d.      Tidak berjalan di depan orang tua.
Sebagai bentuk ta’dzim kita terhadap orang tua, berjalan di depan orang tua adalah hal yang kurang santun. Namun saat ini  hal seperti inni sudah jarang diperhatikan.
e.       Tidak mengeraskan suara melebihi suara orang tua.
Berbicara dengan santun kepada orang tua dengan tidak mengeraskan suara melebihi suara orang tua menandakan adanya sikap rendah hati.
f.        Menjawab undangan atau panggilan orang tua dengan suara yang lemah lembut.
g.       Selalu berusaha mencari kerelaan orang tua.
h.       Bersikap sopan, ramah tamah dan tawadlu’ di hadapan orang tua.
i.         Tidak mengungkit-ungkit jasa atau menyebut segala kebaikan yang telah ia berikan kepada orang tua.
j.        Tidak pergi tanpa seizin orang tua.
k.      Tidak mengerutkan muka di depan orang tua.

Berkenaan dengan tata cara adab kepada kedua orang tua Allah swt. menegaskan dalam firman-Nya.

يَا بُنَيَّ : مَهْمَا تَكَبَّدْتَ مِنَ الْمَشَقَّاتِ فِى خِدْمَةِ اَبِيْكَ وَ اُمِّكَ فَأِنَّ حُقُوْقَهُمَا عَلَيْكَ فَوْقَ ذَالِكَ اَضْعَافًا مُضَاعَفَةً. فَلاَ تَقُلْ لَّهُمَا اُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْ هُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيْمًا وَاحْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِىْ صَغِيْرًا.
“Wahai anakku, jika kamu merasa beratdalam mengabdi kepada ayah dan ibumu, sesungguhnya kewajibanmu kepada keduanya itu adalah lebih dari itu dengan berlipat ganda. Maka janganlah kamu katakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka. Ucapkan kepada mereka perkatan yang mulia. Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya serta berdoalah: ‘Ya Tuhanku kasihilah kedua orang tuaku seperti keduanya mengasihi aku diwaktu kecil.’” (QS. Al-Israa’:33-34)[4]
Dengan demikian sebagai seorang muslim dan sebagai seorang anak harus tahu bagaimana berbahasa baik kepada orang tua. Sungguh manusia adalah makhluk yang paling sempurna (akhlaknya). Dan dalam pemakaian bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi yang artinya ucapan lisan kepada seseorang, tidak ada manusia yang ingin diperlakukan secara kasar dan tidak patut oleh manusia lain. Manusia ingin dihormati, diperlakukan secara baik, santun dan manusiawi.
Di negara indonesia yang terkenal dengan keramahannya sangat kontras dengan kesantunannya berbahasa. Terutama di daerah Jawa yang notabenya memiliki bahasa lokal yang unik, yakni bahasa jawa. Bahasa jawa mempunyai tingkatan bahasa yang masing-masing mempunyai tempat tersendiri dalam penggunaanya. Tingkatan tersebut dibagi menjadi tiga, yaitu ngoko, kromo inggil, dan kromo alus. Bahasa krama alus ini lah yang digunakan seorang anak kepada orang tua. Dari sini terdapat nilai-nilai terpuji yang memiliki kaitan erat dengan santun dan harus dimililki setiap individu agar terjalin kehidupan yang harmonis dalam kehidupan bermasyarakat.
3.      Hikmah Berbahasa Santun Kepada Orang Tua
Salah satu wujud individu yang berakhlak adalah individu tersebut santun berbahasa. Santun berbahasa disini tidak sekedar pada nada suara yang digunakan dalam berbahasa, namun juga pemmilihan kata-kata yang digunakan. Kesantunan dalampersektif Islam merupakan dorongan ajaran untuk mewujudkan sosok manusia agar memiliki kepribadian muslim yang utuh (kaffah), yakni manusia yang memiliki perilaku yang baik dalam pandangan manusia dan sekaligus dalam pandangan Allah.
Berbahasa santun kepada orang tua sebagai salah satu pertanda seseorang memiliki akhlak mulia. Akhlak yang baik yang menandakan adab seorang anak kepada orang tua. Dengan beradab kepada orang tua maka ia juga berbakti kepada keduanya. Diantara hikmah seorang anak yang mau berbakti kepada kedua orang tuanya yaitu:
a.       Termasuk amal yang paling allah cintai.
Dari Abdullah bin mas’ud “ aku bertanya kepada Rasulullah,” amal apakah yang paling allah cintai, “ beliau bersabda , “ shalatlah pada waktunya, “ aku bertanya, “ kemudian apa? Nabi bersabda, “berbakti kepada orang tua.” Aku bertanya, “ kemudian Apa?” Nabi bersabda, “berjihad di jalan Allah.”(H.R Bhukhari dan muslim”
b.      Masuk surga
Dari Abu Hurairah, Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, Bertanya, “siapa dia Rasulullah?”Nabi bersabda, “ Dia adalah orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya dalam usia tua, akan tetapikemudian dia tidak masuk surga.”(HR Muslim)
c.       Panjang umur dan bertambah rejeki
Dari Salman, sesunggunya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “ Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa dan tidk ada yang bisa menambah umur kecuali amal kebaikan.”  (H.R Turmudzi dan dihasanahkan oleh Al-Albani)
d.      Mendapat ridha Allah
Dari Abdullah bin Amr, Rasullullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “ Ridha allah tergntung ridha kedua  orang tua dan murka Allah tergantung murka kedua orang tua.” (H.R Thabari dan dishahihkan oleh Al-Bani)
e.       Diterima doanya dan hilangnya kesusahan
Diantara dalilnya adalah kisah Ashabul Ghar, yaitu tiga orang yang tertangkap dalam goa, salah satu diantara mereka adalah seorang yang sangat   berbakti kepada kedua orang tuanya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
f.        Orang tua ridha dan mendo’akan
Jika seorang anak mendoakan kepada orang tuanya, tentu keduanya akan senang, dan pertanda ridhanya kepadanya, kemudia mendoakannya, sedangkan doa orang tua itu pasti terjawab.
Ada tiga orang yang doanya mustajab dan hal tersebut tidak diragukan lagi. Tiga doa tersebut adalah doa yang teraniaya, doa yang sedang bepergian dan doa orang tua untuk kebaikan anaknya. H.R Ibnu majah dan dihasanakan ibnu Al-Bani).
g.       Anak kita akan berbakti kepada kita
Sikap bakti adalah hutang, maka sebagaimana kita berbakti kepada orang tua kita,maka anak kita pun akan berbakti kepada kita.
h.       Tidak akan menyesal
Seorang anak yang tidak berbakti kepada kedua orang tuanya akan merasa penyesalan ketika keduanya sudah meninggal dunia dan belum sempat berbakti.
i.         Dipuji banyak orang
Bakti kepada orang tua adalah sifat yang tepuji dan orang yang memiliki sifat ini pun akan mendapat pujian. Kisah uwais aaaaaaal-Qorni adalah diantara dalil tentang hal ini.[5]

D.    KESIMPULAN
akhlak adalah suatu kekuatandalam kehendak yang mantap, kekuatan dan kehendak berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar (dalam hal akhlak baik) atau pihak jahat (akhlak jahat). Akhlak sebagai efek dari adanya aqidah dalam diri manusia. Ketika seseorang memiliki aqidah yang baik maka akhlak baik lah yang muncul sebagai perbuatan. Akhlak baik ditandai dengan perbuatan-perbuatan atau kebiasaan yang baik, diantaranya bersikap santun kepada orang tua. Sikap dan perilaku baik ini lah yang disebut dengan akhlak mulia. Akhlak yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh rasulullah saw, yang diutus di bumi sebagai penyempurna akhlak.
Berbahasa bukanlah sekedar ucapan lisan belaka namu lebih luas dari itu perilaku seseorag juga merupakan bagian dari bahasa. Di dalam agama islam perilaku seseorang atau yang sering kita anggap sebagai adab memiliki perhatian tersendiri. Terlebih adab seorang anak kepada orang tuanya, diantaranya
1.      Mendengar dan memperhatikan ucapan orang tua.
2.      Berdiri menyambut orang tua yang hendak berdiri.
3.      Patuh kepada orang tua.
4.      Tidak berjalan di depan orang tua.
5.      Tidak mengeraskan suara melebihi suara orang tua.
6.      Menjawab undangan atau panggilan orang tua dengan suara lemah lembut.
7.      Selalu berusaha mencari kerelaan orang tua.
8.      Bersikap sopan, ramah tamah dan tawadlu’ di hadapan orang tua.
9.      Tidak mengungkit-ungkit jasa atau menyebut segala kebaikan yang telah ia berikan kepada orang tua.
10.  Tidak mengerutkan muka dihadapan orang tua.
11.  Tidak pergi tanpa seizin orang tua.
Hikmah berbahasa santun kepada orang tua diantaranya:
1.      Termasuk amal yang paling Allah cintai
2.      Masuk surga
3.      Panjang umur dan bertambah rezeki
4.      Mendapatkan ridla Allah
5.      Diterima doanya dan hilangnya kesusahan
6.      Orang tua ridla dan mendoakan
7.      Anak kita akan berbakti kepada kita
8.      Tidak akan menyesal
9.      dipuji orang banyak
















DAFTAR PUSTAKA
Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta:2005, hal.221
Imam Al-Ghzali, Bidayatul Hidayah, terjemah, Media Idaman, Surabaya:1986, hal. 146
Muhammad Syakir, Pelajaran DasarTentang akhlak, Al-Miftah, Surabaya:2001, hal. 18
Ustadz Aris Munandar, Bakti kepada Orang Tua, tersedia di https://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/bakti-kepada-orang-tua.html




[1] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta:2005, hal.221
[2] Ibid., 223
[3] Imam Al-Ghzali, Bidayatul Hidayah, terjemah, Media Idaman, Surabaya:1986, hal. 146
[4] Muhammad Syakir, Pelajaran DasarTentang akhlak, Al-Miftah, Surabaya:2001, hal. 18
[5] Ustadz Aris Munandar, Bakti kepada Orang Tua, tersedia di https://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/bakti-kepada-orang-tua.html diakses tanggal 23 Maret 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

add your comment