BERBAHASA SANTUN KEPADA ORANG TUA
CERMINAN AKHLAK MULIA
A.
LATAR BELAKANG
MASALAH
Agama islam adalah agama pembawa keselamatan. Semua yang diajarkan
didalamnya mengandung nilai positif dan mengajak kepada kebaikan. Agama islam
tidak menganjurkan perbutan buruk maupun keji, namun sebaliknya membentuk
manusia yang berakhlak mulia, sesuai ajaran Rasulullah saw.
Dalam kehidupan modern ini perilaku anak tampaknya sekarang
cenderung kehilangan etika dan sopan santun kepada orang tua. Berbagai faktor
dapat mempengaruhi hal ini. Paparan negatif di media televisi, internet, dan media
elektronika lainnya ternyata dapat meningkatkan kekerasan dan agresifitas anak.
Sikap orang tua sendiri yang mengabaikan edukasi dan sering mencontohkan
kebohongan dan kekerasan baik verbal maupun non verbal berrpengaruh pada
perilaku anak. Sehingga berbagai kejadian buruk sering kita dengar ataupun kita
jumpai bahwa anak membentak orang tua atau anak kandung menyumpahi orang
tuanya. Bahkan kejadian tragis sering terjadi anak memukul orang tuanya bahkan
yang lebih miris anak membunuh orang tuanya.
Dalam budaya leluhur kita dahulu bahkan berjalan melewati orang tua
saja harus membungkuk, membantah atau berkata keras saja sudah merupakan
tindakan buruk. Memang, untuk hormat kepada orang tua perlu adanya kebiasaan.
Dan tidak ada rugi jika kita ta’dim kepada orang tua melainkan memperoleh
keuntungan.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa pengertian
akhlak mulia?
2.
Bagaimana cara
berbahasa santun kepada orang tua?
3.
Apa saja hikmah
berbahasa santun kepada orang tua?
C.
PEMBAHASAN
1.
Pengertian
Akhlak Mulia
Dalam pengertian sehari-hari akhlak pada umumnya disamakan artinya
dengan budi pekerti, kesusilaan, sopan santun dalam bahasa indonesia, dan tidak
berbeda pula dengan arti kata moral, ethic dalam bahasa inggris. Menurut
Ibnu Miskawaih akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk
melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran terlebih
dahulu.[1]
Jadi akhlak adalah eksistensi dari adanya jiwa dan hati manusia yang tercurah
keluar menjadi sebuah perbuatan atau pun kebiasaan.
Menurut Abdullah Dirroj, akhlak adalah suatu kekuatan dalam
kehendak yang mantap, kekuatan dan kehendak berkombinasi membawa kecenderungan
pada pemilihan pihak yang benar (dalam hal akhlak baik) atau pihak jahat
(akhlak jahat).[2]
Menurutnya pebuatan-perbuatan manusia dapat dianggap sebagai manifestasi dari
akhlaknya apabila dipenuhi dua syarat. Pertama, perbuatan itu dilakukan
berulang-ulang kali dalam bentuk yang sama, sehingg menjadi kebiasaan. Jadi
apabila terdapat perbuatan namun hanya dilakukan sekali dan setelah itu tidak
pernah dilakukan kembali, perbuatan tersebut tidak dinamakan akhlak. Kedua,
perbuatan itu dilakukan karena dorongan emosi jiwanya, bukan karena adanya
tekanan yang datang dari luar seperti paksaan dari orang lain, sehingga
menimbulkan ketakutan atau bujukan dengan harapan yang indah-indah dan
sebagainya. Dapat dikatakan, apabila perbuatan itu dilakukan karena adanya
paksaan yang dipengaruhi oleh unsur dari luar dirinya, maka perbuatan itu tidak
dapat dikategorikan akhlak.
Manusia itu tidak dilihat dari harta, ilmu atau kekuasaannya,
tetapi ditentukan sepenuhnya oleh akhlak yakni perbuatan yang baik atau
takwanya dan seberapa jauh nilai-nilai etika menjiwai dan mewarnai segala
tindakannya. Agama adalah sumber akhlak yang tidak pernah kering, karena agama memperhatikan
dan mengatur setiap perbuatan manusia. Jadi akhlak menjadi salah satu ajaran
yang amat penting dalam agama apa pun, rasanya semua agama sepekat dan
mempunyai pandangan yang sama, yakni semua agam memerintahkan pemeluknya
berbuat baik dan melarang berbuat jahat.
Akhlak sebagai efek dari adanya aqidah dalam diri manusia. Ketika
seseorang memiliki aqidah yang baik maka akhlak baik lah yang muncul sebagai
perbuatan. Akhlak baik ditandai dengan perbuatan-perbuatan atau kebiasaan yang
baik, diantaranya bersikap santun kepada orang tua. Sikap dan perilaku baik ini
lah yang disebut dengan akhlak mulia. Akhlak yang sesuai dengan apa yang
diajarkan oleh rasulullah saw, yang diutus di bumi sebagai penyempurna akhlak.
2.
Berbahasa
Santun Kepada Orang Tua
Bericara tentang bahasa identik dengan ucapan lisan. Karena bahasa
sebagai sarana dalam berkomunikasi antar makhluk dan bahasa tidak sebatas
verbal saja namun juga bahasa tubuh. Oleh sebab itu tingkah laku seseorang
teradap seseorang pun bahasa, yakni bahasa tubuh. Maka perlu diperhatikan
dengan baik bagaimana kita berbahasa kepada orang tua, baik orang tua kandung
maupun orang yang usianya lebih tua dari pada kita. Karena ini dapat menyumbang
atas persepsi seseorang terhadap orang lain tentang akhlak seseorang, yakni
dengan bagaimana orang tersebut
berbicara maupun berinteraksi.
Menurut al-Ghazali adab seorang anak di hadapan ayah dan ibu (orang
tua) setidaknya ada sebelas.[3]
a.
Mendengar dan
memperhatikan ucapan orang tua.
Ketika
orang tua berbicara, menuturi, mengajarkan, memberi nasehat kepada anak maka
anak harus mendengarkan dan memperhatikan apa yang dikatakan oleh orang tua.
Maka tidak dibenarkan dalam kehidupan ini seorang anak menghiraukan atau bahkan
membantah apa yang diucapkan orang tua kepada anak.
b.
Berdiri
menyambut orang tua yang hendak berdiri
Sebagai
bentuk penghormatan dan bentuk takdzim seorang anak kepada .orang tua.
c.
Patuh kepada
orang tua.
Mematuhi
segala apa yang diperintahkan orang tua kepada kita. Karena orang tua akan
senang dalam hatinya melihat anaknya yang patuh terhadap orang tua. Namun perlu
diperhatikan bahwa perintah akan hal-hal baik lah yang harus kita patuhi, bukan
sebaliknya.
d.
Tidak berjalan
di depan orang tua.
Sebagai
bentuk ta’dzim kita terhadap orang tua, berjalan di depan orang tua adalah hal
yang kurang santun. Namun saat ini hal
seperti inni sudah jarang diperhatikan.
e.
Tidak
mengeraskan suara melebihi suara orang tua.
Berbicara
dengan santun kepada orang tua dengan tidak mengeraskan suara melebihi suara
orang tua menandakan adanya sikap rendah hati.
f.
Menjawab
undangan atau panggilan orang tua dengan suara yang lemah lembut.
g.
Selalu berusaha
mencari kerelaan orang tua.
h.
Bersikap sopan,
ramah tamah dan tawadlu’ di hadapan orang tua.
i.
Tidak
mengungkit-ungkit jasa atau menyebut segala kebaikan yang telah ia berikan
kepada orang tua.
j.
Tidak pergi
tanpa seizin orang tua.
k.
Tidak
mengerutkan muka di depan orang tua.
Berkenaan
dengan tata cara adab kepada kedua orang tua Allah swt. menegaskan dalam firman-Nya.
يَا
بُنَيَّ : مَهْمَا تَكَبَّدْتَ مِنَ الْمَشَقَّاتِ فِى خِدْمَةِ اَبِيْكَ وَ
اُمِّكَ فَأِنَّ حُقُوْقَهُمَا عَلَيْكَ فَوْقَ ذَالِكَ اَضْعَافًا مُضَاعَفَةً.
فَلاَ تَقُلْ لَّهُمَا اُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْ هُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً
كَرِيْمًا وَاحْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ
ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِىْ صَغِيْرًا.
“Wahai anakku, jika kamu merasa beratdalam mengabdi kepada ayah
dan ibumu, sesungguhnya kewajibanmu kepada keduanya itu adalah lebih dari itu
dengan berlipat ganda. Maka janganlah kamu katakan kepada keduanya perkataan ‘ah’
dan janganlah kamu membentak mereka. Ucapkan kepada mereka perkatan yang mulia.
Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya serta berdoalah: ‘Ya Tuhanku kasihilah
kedua orang tuaku seperti keduanya mengasihi aku diwaktu kecil.’” (QS.
Al-Israa’:33-34)[4]
Dengan demikian
sebagai seorang muslim dan sebagai seorang anak harus tahu bagaimana berbahasa
baik kepada orang tua. Sungguh manusia adalah makhluk yang paling sempurna
(akhlaknya). Dan dalam pemakaian bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi yang
artinya ucapan lisan kepada seseorang, tidak ada manusia yang ingin
diperlakukan secara kasar dan tidak patut oleh manusia lain. Manusia ingin
dihormati, diperlakukan secara baik, santun dan manusiawi.
Di negara
indonesia yang terkenal dengan keramahannya sangat kontras dengan kesantunannya
berbahasa. Terutama di daerah Jawa yang notabenya memiliki bahasa lokal yang
unik, yakni bahasa jawa. Bahasa jawa mempunyai tingkatan bahasa yang
masing-masing mempunyai tempat tersendiri dalam penggunaanya. Tingkatan
tersebut dibagi menjadi tiga, yaitu ngoko, kromo inggil, dan kromo alus. Bahasa
krama alus ini lah yang digunakan seorang anak kepada orang tua. Dari sini
terdapat nilai-nilai terpuji yang memiliki kaitan erat dengan santun dan harus
dimililki setiap individu agar terjalin kehidupan yang harmonis dalam kehidupan
bermasyarakat.
3.
Hikmah
Berbahasa Santun Kepada Orang Tua
Salah satu
wujud individu yang berakhlak adalah individu tersebut santun berbahasa. Santun
berbahasa disini tidak sekedar pada nada suara yang digunakan dalam berbahasa,
namun juga pemmilihan kata-kata yang digunakan. Kesantunan dalampersektif Islam
merupakan dorongan ajaran untuk mewujudkan sosok manusia agar memiliki
kepribadian muslim yang utuh (kaffah), yakni manusia yang memiliki perilaku
yang baik dalam pandangan manusia dan sekaligus dalam pandangan Allah.
Berbahasa
santun kepada orang tua sebagai salah satu pertanda seseorang memiliki akhlak
mulia. Akhlak yang baik yang menandakan adab seorang anak kepada orang tua.
Dengan beradab kepada orang tua maka ia juga berbakti kepada keduanya. Diantara
hikmah seorang anak yang mau berbakti kepada kedua orang tuanya yaitu:
a.
Termasuk amal
yang paling allah cintai.
Dari
Abdullah bin mas’ud “ aku bertanya kepada Rasulullah,” amal apakah yang paling
allah cintai, “ beliau bersabda , “ shalatlah pada waktunya, “ aku bertanya, “
kemudian apa? Nabi bersabda, “berbakti kepada orang tua.” Aku bertanya, “
kemudian Apa?” Nabi bersabda, “berjihad di jalan Allah.”(H.R Bhukhari dan
muslim”
b.
Masuk surga
Dari
Abu Hurairah, Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
Bertanya, “siapa dia Rasulullah?”Nabi bersabda, “ Dia adalah orang yang
mendapati kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya dalam usia tua, akan
tetapikemudian dia tidak masuk surga.”(HR Muslim)
c.
Panjang umur
dan bertambah rejeki
Dari
Salman, sesunggunya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “ Tidak
ada yang bisa menolak takdir kecuali doa dan tidk ada yang bisa menambah umur
kecuali amal kebaikan.” (H.R Turmudzi
dan dihasanahkan oleh Al-Albani)
d.
Mendapat ridha
Allah
Dari
Abdullah bin Amr, Rasullullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “ Ridha
allah tergntung ridha kedua orang tua
dan murka Allah tergantung murka kedua orang tua.” (H.R Thabari dan dishahihkan
oleh Al-Bani)
e.
Diterima doanya
dan hilangnya kesusahan
Diantara
dalilnya adalah kisah Ashabul Ghar, yaitu tiga orang yang tertangkap dalam goa,
salah satu diantara mereka adalah seorang yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya.” (H.R.
Bukhari dan Muslim).
f.
Orang tua ridha
dan mendo’akan
Jika
seorang anak mendoakan kepada orang tuanya, tentu keduanya akan senang, dan
pertanda ridhanya kepadanya, kemudia mendoakannya, sedangkan doa orang tua itu
pasti terjawab.
Ada
tiga orang yang doanya mustajab dan hal tersebut tidak diragukan lagi. Tiga doa
tersebut adalah doa yang teraniaya, doa yang sedang bepergian dan doa orang tua
untuk kebaikan anaknya. H.R Ibnu majah dan dihasanakan ibnu Al-Bani).
g.
Anak kita akan
berbakti kepada kita
Sikap
bakti adalah hutang, maka sebagaimana kita berbakti kepada orang tua kita,maka
anak kita pun akan berbakti kepada kita.
h.
Tidak akan
menyesal
Seorang
anak yang tidak berbakti kepada kedua orang tuanya akan merasa penyesalan
ketika keduanya sudah meninggal dunia dan belum sempat berbakti.
i.
Dipuji banyak
orang
Bakti
kepada orang tua adalah sifat yang tepuji dan orang yang memiliki sifat ini pun
akan mendapat pujian. Kisah uwais aaaaaaal-Qorni adalah diantara dalil tentang
hal ini.[5]
D.
KESIMPULAN
akhlak adalah suatu kekuatandalam kehendak yang mantap, kekuatan
dan kehendak berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar
(dalam hal akhlak baik) atau pihak jahat (akhlak jahat). Akhlak sebagai efek
dari adanya aqidah dalam diri manusia. Ketika seseorang memiliki aqidah yang
baik maka akhlak baik lah yang muncul sebagai perbuatan. Akhlak baik ditandai
dengan perbuatan-perbuatan atau kebiasaan yang baik, diantaranya bersikap santun
kepada orang tua. Sikap dan perilaku baik ini lah yang disebut dengan akhlak
mulia. Akhlak yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh rasulullah saw, yang
diutus di bumi sebagai penyempurna akhlak.
Berbahasa bukanlah sekedar ucapan lisan belaka namu lebih luas dari
itu perilaku seseorag juga merupakan bagian dari bahasa. Di dalam agama islam
perilaku seseorang atau yang sering kita anggap sebagai adab memiliki perhatian
tersendiri. Terlebih adab seorang anak kepada orang tuanya, diantaranya
1.
Mendengar dan memperhatikan
ucapan orang tua.
2.
Berdiri
menyambut orang tua yang hendak berdiri.
3.
Patuh kepada
orang tua.
4.
Tidak berjalan
di depan orang tua.
5.
Tidak
mengeraskan suara melebihi suara orang tua.
6.
Menjawab
undangan atau panggilan orang tua dengan suara lemah lembut.
7.
Selalu berusaha
mencari kerelaan orang tua.
8.
Bersikap sopan,
ramah tamah dan tawadlu’ di hadapan orang tua.
9.
Tidak
mengungkit-ungkit jasa atau menyebut segala kebaikan yang telah ia berikan
kepada orang tua.
10.
Tidak
mengerutkan muka dihadapan orang tua.
11.
Tidak pergi
tanpa seizin orang tua.
Hikmah berbahasa santun kepada orang tua diantaranya:
1.
Termasuk amal
yang paling Allah cintai
2.
Masuk surga
3.
Panjang umur
dan bertambah rezeki
4.
Mendapatkan
ridla Allah
5.
Diterima doanya
dan hilangnya kesusahan
6.
Orang tua ridla
dan mendoakan
7.
Anak kita akan
berbakti kepada kita
8.
Tidak akan
menyesal
9.
dipuji orang
banyak
DAFTAR PUSTAKA
Mansur, Pendidikan
Anak Usia Dini dalam Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta:2005, hal.221
Imam Al-Ghzali,
Bidayatul Hidayah, terjemah, Media Idaman, Surabaya:1986, hal. 146
Muhammad
Syakir, Pelajaran DasarTentang akhlak, Al-Miftah, Surabaya:2001, hal. 18
Ustadz Aris
Munandar, Bakti kepada Orang Tua, tersedia di https://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/bakti-kepada-orang-tua.html
[1] Mansur, Pendidikan
Anak Usia Dini dalam Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta:2005, hal.221
[2] Ibid.,
223
[3] Imam
Al-Ghzali, Bidayatul Hidayah, terjemah, Media Idaman, Surabaya:1986,
hal. 146
[4] Muhammad
Syakir, Pelajaran DasarTentang akhlak, Al-Miftah, Surabaya:2001, hal. 18
[5] Ustadz
Aris Munandar, Bakti kepada Orang Tua, tersedia di https://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/bakti-kepada-orang-tua.html
diakses tanggal 23 Maret 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
add your comment