CIRI-CIRI SISTEM PEMBELAJARAN YANG
EFEKTIF
Makalah
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah : Perencanaan Sistem PAI
Dosen
Pengampu : M. Shobirin
Disusun
Oleh :
Muhammad
Farich Hidayat 112507
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
TAHUN
2014
I. Pendahuluan
A. Latar
Belakang
Pendidikan
adalah sebagai usaha yang dilakukan orang tua dalam rangka mencerdaskan
anaknya. Dengan pendidikan diharapkan siswa akan menjadi manusia pembelajar dan
bertakwa kepada tuhan yang Maha Esa. Karena dalam pendidikan terkandung unsur
transformasi yaitu merubah. Merubah yang semulanya tidak tahu menjadi tahu,
yang tidak bisa menjadi bisa. Dimana perubahan tersebut terjadi karena adanya
proses. Proses inilah yang disebut dengan proses belajar mengajar atau pembelajaran.
Dari
uraian diatas dapat kita mengerti bahwasanya pembelajaran sangatlah vital
perannya dalam pendidikan. Pembelajaran seperti sebuah sisitem, dibutuhkan
kerjasama yang pas dari setiap unsur dalam mencapai suatu tujuan. Pembelajaran
yang kurang tepat akan mengganggu dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Begitu juga sebaliknya, pembelajaran yang efektif akan memudahkan kita dalam
mencapai tujuan tersebut. Yang harus dilakukan adalah mencari tahu dan
menerapkan bagaimana pembelajaran yang efektif sesuai diterapakan kepada siswa.
Sehingga dapat memperlancar dalam proses pembelajaran.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian dan ruang lingkup sistem pembelajaran?
2. Bagaimanakah
ciri pembelajaran yang efektif?
II. Pembahasan
A. Pengertian
dan Ruang Lingkup Sistem Pembelajaran
Banyak
definisi yang digunakan untuk menjelaskan arti kata
“Sistem”, diantaranya sebagai berikut :
1.
Sistem adalah suatu kebulatan keseluruhan yang
kompleks/ terorganisir/ suatu himpunan / perpaduan hal-hal / bagian-bagian yang
membentuk suatu kebulatan / keseluruhan yang kompleks/utuh.
2.
Sistem merupakan himpunan komponen yang saling
berkaitan yangg bersam-sama berfungsi untuk mencapai suatu tujuan.
3.
Sistem merupakan sehimpunan komponen / subsistem yang
terorganisasikan dan berkaitan sesuai dengan rencana untuk mencapai suatu
tujuan tertentu.
Definisi-definisi
diatas, yang pertama (1) menekankan soal wujud sistem, yang kedua (2) menaruh
perhatian pada fungsi komponen yang saling berkaitan dan tujuan sistem, dan
yang ketiga (3) menampilkan unsur rencana disamping saling berkaitannya antar
komponen dan tujuan dari sistem itu sendiri. Meskipun definisi-definisi diatas
itu berbeda-beda tetapi mengandung unsur persamaan yang dapat dipandang sebagai
ciri umum dari sistem yaitu yang mencakup hal-hal sebagai berikut :
a.
Sistem merupakan suatu kesatuan yang terstruktur
b.
Kesatuan tersebut terdiri dari sejumlah komponen yang
saling berpengaruh
c.
Dan masing-masing komponen tersebut mempunyai fungsi
tertentu dan secara bersama-sama melaksanakan fungsi struktur, yaitu mencapai
tujuan sistem.[1]
Dengan
demikian sistem dapat diartikan sebagai suatu kesatuan integral dari sejumlah
komponen. Komponen-komponen tersebut satusama lain saling berpengaruh dengan
fungsinya masing-masing, tetapi secara fungsi komponen itu, terarah pada
pencapaian satu tujuan (yaitu tujuan dari sistem itu sendiri) sebagai gambaran
ilustrasi berikut ini mungkin dapat memperjelas arti batasan tersebut : Lalu
lintas jalan raya adalah sebuah sistem, tujuannya adalah memperlancar hubungan
transportasi antara tempat yang satu dengan tempat yang lain. Tujuan tersebut
dapat dicapai jika ditunjang oleh sejumlah komponen,
antara lain : jaringan jalanan yang dapat dilalui berbagai jenis kendaraan,
macam-macam jenis kendaraan dan pemakai jalanan yang berbeda watak dan
sifatnya. Juga peraturan-peraturan / ketentuan-ketentuan lalu lintas yang harus
ditaati oleh pengemudi dan pemakai jalan, misalnya berjalan harus di sebelah
kiri, ambulans harus didahulukan dan seterusnya. Tanda jalan / rambu jalan
termasuk lampu pengatur lalu lintas.
Oleh sebab
itu sistem merupakan proses untuk mencapai tujuan melalui
pemberdayaan komponen-komponen yang membentuknya, maka sistem erat kaitannya
dengan perencanaan. Perencanaan itu sendiri adalah pengambilan keputusan
bagaimana memberdayakan komponen agar tujuan berhasil dengan sempurna. Oleh
sebab itu proses berpikir dengan pendekatan sistem memiliki daya ramal akan
keberhasilan suatu proses, artinya apabila seluruh komponen yang membentuk
sistem bekerja sesuai dengan fungsinya , maka dapat dipastikan tujuan yang
telah ditentukan akan tercapai secara optimal sebaliknya, jika
komponen-komponen yang membentuk sistem tidak dapat bekerja sesuai dengan
fungsinya, maka pergerakan sistem akan terganggu, yang berarti akan menghambat
pencapaian tujuan.
Smith dan
Ragan menyatakan bahwa pembelajan adalah desain dan pengembangan
penyajianinformasi dan aktifitas-aktifitas yang diarahkan pada hasil belajar
tertentu (1983;4). Dick mendefinisikanpembelajaran sebagai intervensi
pendidikan yang dilaksanakan dengan tujuan tertentu, bahan atau prosedur yang
ditargetkan pada pencapaian tujuan tersebut, dan pengukuran yang
menentukanperubahan yang diinginkan pada perilaku. (Dick, 1996; 96-97) Dengan
membandingkannya dengan istilah kurikulum, Snelbecker, seperti yang dikutip
oleh Reigeluth, menyatakan bahwa perbedaan utama antara kurilkulum dan
pembelajaran adalah bahwa kurikulum berkaitan dengan apa yang diajarkan
sedangkan pembelajaran berkaitan dengan bagaimana mengajarkannya (1999;6).[2]
Suatu sistem
memiliki ukuran dan batas yang sifatnya relatif. Bisa terjadi sesuatu sistem
tertentu pada dasarnya merupakan subsistem dari suatu sistem yang
lebih luas, misalnya, sistem pembelajaran yang memiliki komponen-komponen
tertentu pada dasarnya merupakan subsistem dari suatu sistem pendidikan, dan
sistem pendidikan merupakan subsistem dari sistem sosial masyarakat. Dalam
sistem itu pun memiliki subsistem yang lebih kecil misalnya subsistem media,
subsistem strategi dan lain-lain.
Kemudian,
mengapa pembelajaran dikatakan sebagau suatu sistem ?. karena pembelajaran
adalah kegiatan yang bertujuan yakni membelajarkan siswa. Proses pembelajaran
itu merupakan rangkaian kegiatan yang melibatkan berbagai komponen sehingga
setiap pendidik harus memahami sistem pembelajaran melalui pemahaman tersebut,
minimal setiap guru akan memahami tentang tujuan pembelajaran dan hasil yang
diharapkan.
Menurut (Ely
:1979) sistem bermanfaat untuk merancang / merencanakan suatu proses
pembelajaran. Perencanaan adalah proses dan cara berpikir yang dapat membantu
menciptakan hasil yang diharapkan.[3]
Oleh sebab itu proses perencanaan yang sistematis dalam proses pembelajaran
mempunyai beberapa keuntungan diantaranya sebagai berikut :
1)
Melalui sistem perencanaan yang matang guru akan
terhindar dari keberhasilan secara untung-untungan. Sistem memiliki peran yang
kuat dalam keberhasilan suatu proses pembelajaran karena memang perencanaan
disusun untuk mencapai hasil yang optimal.
2)
Melalui sistem perencanaan yang sistematis, setiap
guru dapat menggambarkan berbagai hambatan yang mungkin akan dihadapi. Sehingga
dapat menentukan berbagai strategi yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan
yang diharapkan.
3)
Melalui sistem perencanaan, guru dapat menentukan
berbagai langkah dalam memanfaatkan berbagai sumber dan fasilitas yang ada
untuk ketercapaian tujuan.
Komponen-komponen
sistem pembelajaran ada 5, yaitu :
1.
Tujuan
Tujuan
merupakan komponen yang sangat penting dalam sistem pembelajaran. Mau dibawa ke
mana siswa, apa yang harus dimiliki oleh siswa. Semuanya
tergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Sesuai dengan standar isi, kurikulum
yang berlaku untuk setiap satuan pendidikan adalah kurikulum berbasis
kompetensi, kurikulum berbasis kompetensi ini diharapkan mampu memecahkan
berbagai persoalan bangsa, khususnya dalam bidang pendidikan, dengan
mempersiapkan peserta didik, melalui perencanaan pelaksanaan evaluasi terhadap
sistem pendidikan secara efektif dan efisien.
2.
Isi/materi pelajaran
Materi
pelajaran merupakan komponen kedua dalam sistem pembelajaran. Dalam konteks
tertentu, materi pelajran merupakan inti dalam proses pembelajaran, artinya
sering terjadi proses pembelajaran diartikan
sebagai proses penyampaian materi. Hal ini bisa dibenarkan manakala tujuan
utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran (Subject Centered
Teaching).
3.
Strategi / metode
Strategi /
metode adalah komponen yang juga
mempunyai fungsi yang sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan.
Bagaimanapun lengkap dan jelasnya komponen lain, tanpa dapat diimplementasikan
melalui strategi yang tepat maka komponen-komponen tersebut tidak akan memiliki
makna dalam
proses pencapaian tujuan. [4]
4.
Alat dan sumber
walaupun
fungsinya sebagai alat bantu, tetapi memiliki peran yang tidak kalah pentingnya
dengan komponen-komponen yang lain. Dalam kemajuan teknologi seperti sekarang
ini memungkinkan siswa dapat belajar dari mana saja dan kapan saja dengan
memanfaatkan hasil-hasil teknologi.
5.
Evaluasi
Evaluasi merupakan komponen terakhir dalam sistem
proses pembelajaran. Evaluasi bukan saja berfungsi untuk melihat keberhasilan
siswa dalam proses pembelajaran, tetapi juga berfungsi sebagai umpan balik bagi
guru atas kinerjanya dalam pengelolaan pembelajaran, melalui evaluasi kita
dapat melihat kekurangan dalam pemanfaatan berbagai komponen sistem
pembelajaran[5].
B. Ciri
Sistem Pembelajaran yang Efektif
Pembelajaran
yang efektif di tandai dengan beberapa indikasi, diantaranya:
1. Perbaikan
Kualitas Pembelajaran
Perbaikan
kualitas pembelajaran haruslah diawali dengan perbaikan desain pembelajaran. Perencanaan
pembelajaran dapat dijadikan titik awal dari upaya perbaikan kualitas
pembelajaran. Hal ini dimungkinkan karena dalam desain pembelajaran, tahapan
yang akan dilakukan oleh guru atau dosen dalam mengajar telah terancang dengan
baik, mulai dari mengadakan analisis dari tujuan pembelajaran sampai
dengan pelaksanaan evaluasi sumatif yang
tujuannya untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran yang tela ditetapkan.[6]
2. Pembelajaran
Dirancang dengan Pendekatan Sistem
Untuk
mencapai kualitas pembelajaran, desain pembelajaran yang dilakukan haruslah
didasarkan pada pendekatan sistem. Hal ini disadari bahwa dengan pendekatan sistem,
akan memberikan peluang yang lebih besar dalam mengintregasikan semua variabel
yang memengaruhi belajar, termasuk keterkaitan antar variabel pengajaran yakni
variabel kondisi pembelajaran, variabel metode, dan variabel hasil
pembelajaran.
3. Desain
Pembelajaran Mengacu pada Bagaimana Seseorang Belajar
Kualitas
pembelajaran
juga banyak tergantung bagaimana pembelajaran itu dirancang. Racangan
pembelajaran biasanya dibuat berdasarkan pendekatan perancangnya. Apakah
bersifat intuitif atau ilmiah. Jika bersifat intuitif, rancagan pembelajaran
tersebut banyak diwarnai oleh kehendak perncangnya. Akan tetapi, jika dibuat
berdasarkan pendekatan ilmiah, rancangan pembelajaran tesebut diwarnai oleh
berbagai teori yang telah dikemukakan oleh para ilmuan pembelajaran. Disamping
itu pendekatan lain adalah pembuatan rancangan pembelajaran bersifat intuitif
ilmiah yang merupakan paduan antara keduanya, sehingga rancangan pembelajaran
yang dihasilkan sesuai dengan pengalaman empiris yang pernah diemukan pada saat
melaksanakan pembelajaran yang dikembangkan pula dengan menggunakan teori-teori
yang relevan.[7]
4. Desain
Pembelajaran Diacukan pada Siswa Perorangan
Seorang
belajar memiliki potensi yang perlu dikembangkan. Tindakan atau peilaku belajar
dapat ditata atau dipengaruhi, tetapi tindakan atau perilaku belajar itu akan
tetap berjalan sesuai dengan karakteristik siswa. Siswa yang lambat dalam
berfikir, tidak mungkin dapat dipaksa seger bertindak cepat. Sebaliknya siswa
yang memiliki kemampuan berfikir tinggi tidak mungkin dipaksa bertindak dengan
cara lambat. Dalam hal ini jika perencanaan pembeljaran tidak diacukan pada
individu yang belajar seperti ini, maka besar kemungkinan bahwa siswa yang
lambat belajar akan makin tertinggal, dan yang cepat berfikir makin maju
pembelajarannya.
5. Desain
Pembelajaran Harus Diacukan Pada Tujuan
Hasil
pembelajaran mencakup hasil langsung dan tidak langsung (pengiring).
Perancangan pembelajaran perlu memilah hasil pembelajaran yang langsung dapat
diukur setelah selesai pelaksanaan pembelajaran, dan hasil pembelajaran yang
dapat teruku setelah melalui keseluruhan proses pembelajaran, atau asil
pengiring.
6. Desain
Pembelajaran Diarahkan pada Kemudahan Belajar
Disamping
peran guru sebagai sumber belajar telah diatur secara terencana, pelaksanaan
evaluasi baik formai maupun sumatif telah terencana, memberikan kemudahan siswa
untuk belajar.
7. Desain
Pembelajaran Melibatkan Variabel Pembelajaran
Desain
pembelajaran diupayakan mencakup semua variabel pembelajaran yang dirasa turut
mempengaruhi belajar. Ada tiga variabel pembelajaran yang perlu dipertimbngkan
dalam merancang pembelajaran. Ketiga variabel tersebut adalah variabel kondisi,
metode, dan variabel hasil pembelajaran.[8]
8. Desain
Pembelajaran Penetapan Metode untuk Mencapai Tujuan
Pemilihan
metode pmbelajaran harus didasarkan pada analisis kondisi dan hasil
pembelajaran. Analisis akan menunjukkan bagaimana kondisi pembelajarannya, dan
apa hasil pembelajara yang diharapkan. Ada tiga prinsip yang perlu dipertimbang
dalam upaya menetapkan metode pembelajaran. Ketiga prinsip tersebut adalah (1)
tidak ada satu metode pembelajaran yang unggul untuk semua tujuan dalam semua
kondisi, (2) metode (strategi) pembelajaran yang berbeda memiliki pengaruh yang
berbeda dan konsisten pada hasil pembelajaran, (3) kondisi pembelajaran bisa
memiliki pengaruh yang konsisten pada
hasil pengajaran.
III.
Punutup
A. Kesimpulan
Sistem dapat
diartikan sebagai suatu kesatuan integral dari sejumlah komponen. Komponen-komponen tersebut
satusama lain saling berpengaruh dengan fungsinya masing-masing, tetapi secara
fungsi komponen itu, terarah pada pencapaian satu tujuan
Pembelajaran
dikatakan sebagai sebuah sistem, karena pembelajaran adalah kegiatan
yang bertujuan yakni membelajarkan siswa. Proses pembelajaran itu merupakan
rangkaian kegiatan yang melibatkan berbagai komponen sehingga setiap pendidik
harus memahami sistem pembelajaran melalui pemahaman tersebut, minimal setiap
guru akan memahami tentang tujuan pembelajaran dan hasil yang diharapkan.diantara
Komponen
pembelajaran :
1.
Tujuan
2.
Isi atau materi pelajaran
3.
Strategi atau metode
4.
Alat dan sumber
5.
Evaluasi
Ciri
pembelajaran yang efektif :
1. Perbaikan
Kualitas Pembelajaran
2. Pembelajaran
Dirancang dengan Pendekatan Sistem
3. Desain
Pembelajaran Mengacu pada Bagaimana Seseorang Belajar
4. Desain
Pembelajaran Diacukan pada Siswa Perorangan
5. Desain
Pembelajaran Harus Diacukan Pada Tujuan
6. Desain
Pembelajaran Diarahkan pada Kemudahan Belajar
7. Desain
Pembelajaran Melibatkan Variabel Pembelajaran
8. Desain
Pembelajaran Penetapan Metode untuk Mencapai Tujuan
B. Daftar
Pustaka
Hamah
B. Uno, Perencanaan Pembelajaran,
Bumi Aksara, Jakarta, 2008
Martinis
Yamin, Paradigma Baru Pembelajaran, Referensi,
jakarta, 2013
Muhammad Joko
Susilo, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Pustaka Pelajar, 2007
Wina
Sanjaya, Strategi Pembelajaran, Kencana Prenada Group, 2008
[2] Martinis
Yamin, Paradigma Baru Pembelajaran,
Referensi, jakarta, 2013, hal. 71
[3] Wina Sanjaya, Strategi
Pembelajaran, Kencana Prenada Group, 2008, hal. 51
[4] Ibid.,
hal. 56
[5] Ibid.,
hal.57
[6] Hamah B.
Uno, Perencanaan Pembelajaran, Bumi
Aksara, Jakarta, 2008, hal. 4
[7] Ibid.,
hal. 5
[8] Ibid.,
hal. 6

Farich Hidayat: Ciri-Ciri Pembelajaran Efektif >>>>> Download Now
BalasHapus>>>>> Download Full
Farich Hidayat: Ciri-Ciri Pembelajaran Efektif >>>>> Download LINK
>>>>> Download Now
Farich Hidayat: Ciri-Ciri Pembelajaran Efektif >>>>> Download Full
>>>>> Download LINK Iy